• Wisata Edukasi Anak

  • Lomba Mewarnai Tingkat SD Se-Kabupaten Pemalang di Zatobay

  • Sosialisasi di TK. Putra VII Bojongbata Pemalang

  • Sosialisasi di ABA III Bojongbata Pemalang

  • Pengenalan Satwa di Zatobay

  • Personil Lembaga Pemerhati Alam dan Satwa (PAS)

Selasa, 10 Mei 2016

LEPSA Indonesia gandeng Dewan Kesenian Pemalang – Bentuk Generasi Pelestari Lingkungan Melalui Festival Pemalang Hijau 2016 di Waterboom Zatoobay




Membentuk karakter pelajar untuk memiliki Rasa Cinta, peduli terhadap kelestarian lingkungan dan satwa butuh sebuah proses dimana dalam proses tersebut sebisa mungkin pelajar dilibatkan secara langsung dalam kegiatan-kegiatan yang mengarahkan pada nilai-nilai pelestarian

Lembaga Pelestarian Satwa dan Alam (LEPSA) – Indonesia bekerjasama dengan Dewan Kesenian Pemalang (DKP), menggelar acara dengan takjub “Festival Pemalang Hijau 2016” dalam rangka mewujudkan pengenalan satwa dan pelestarian lingkungan hidup dalam Festival Pemalang Hijau, sebagai bentuk kepedulian aktif peran remaja terhadap isu global warming, Acara yang digelar di Obyek Wisata Zatobay Pemalang berhasil menarik banyak minat peserta dari kalangan pelajar dari tingkat Paud/TK, SD, SMP sampai SMA/SMK se Kabupaten Pemalang. Dalam acara tersebut juga dibagikan 500 bibit pohon dan poster tentang hewan dilindungi yang diserahkan secara simbolis kepada peserta serta pengunjung. “Ditemui Ketua Panitia (Elman Prasetyo) ; bahwa Pelajar menjadi sasaran paling penting dalam kegiatan pelestarian lingkungan dan satwa,mengingat pelajar adalah generasi penerus yang perlu dididik diarahkan ke kegiatan –kegiatan yang positif, seperti kegiatan Festival ini (imbuhnya);

Acara Festival Pemalang Hijau ini juga dimeriahkan berbagai Festival untuk pelajar diantaranya; Festival Band Pelajar, Festival Modeling Pelajar, dan Festival Pop Singer serta beberapa stan pendukung; Stan Edukasi Satwa MLI Mortal Tegal, Stan Edukasi Tumbuhan, Stan Naturindo Jogjakarta dan Stan FEDEP Bappeda (Produk oleh-oleh khas pemalang). Stan – stan tersebut menambah semakin meriahnya acara Festival Pemalang Hijau ini.

Dalam acara Festival tersebut untuk kategori Festival Band Pelajar, Juara1 dimenangkan oleh SMA N1 Pemalang, Juara 2 SMP N 3 Pemalang, dan Juara 3 dari Gloria Managemen. Untuk Kategori Pop Singer, Juara 1 Esti (SMA N1 Pemalang), Juara 2 Nazira (SMP N 3 Pemalang), dan Juara 3 Yeyen (SMK Amanah Husada), Sedangkan untuk Kategori Modeling; Juara 1 Syifa Syaugia TK Bhayangkari Pemalang, Juara 2 Alya liana Zahra TK Adyaksa Pemalang dan Juara 3 A. Zahra L TK Mutiara Bangsa.

Turut hadir pula Ketau Dewan Kesenian Pemalang (DKP) ; Andi Rustono yang ikut menjadi juri dalam acara Festival-festival pelajar. Andi menambahkan ; bahwa pelajar dikab.pemalang sangat  perlu sekali wadah kegiatan yang bisa mengarahkan pelajar dalam kegiatan yang positif, pembelajaran tidak melulu dilakukan didalam kelas, akan tetapi juga bisa diluar kelas, pelibattan pelajar yang secara aktif dalam berbagai kegiatan-kegiatan yang positif akan mengarahkan dan membentuk pelajar menjadi pribadi yang unggul.(imbuhnya)
Sukses dan Meriahnya acara Festival Pemalang Hijau juga tidak lepas dari peran sponsor yang sangat peduli terhadap kegiatan pelestarian lingkungan, diantaranya; Fedep Bappeda Kab.Pemalang, Dindikpora Kab.Pemalang,  Balai Konservasi Sumberdaya Alam BKSDA, Quen Music Studio, Waterboom Zatobay, Yamaha SBR Motor, Kospin Jasa Syariah Kab.Pemalang, Hotel Sentana Mulya Pemalang, Biznet, Percetakan Taman Asri dan Naturindo.








Senin, 11 April 2016

LEPSA Indonesia ; Akan Gelar Festival Pemalang Hijau dibulan Mei 2016


LEPSA - Sosialisasi, Edukasi dan Konservasi adalah tiga pokok action nyata yang menjadi fokus khusus Lembaga Perlindungan Satwa dan Alam (LEPSA) - Indonesia, sejak berdirinya kegiatan-kegiatan Lepsa dalam mensosialisasikan pentingnya menjaga, mencintai, melestarikan lingkungan dan satwa serta memberikan edukasi dan  bagaimana masyarakat, dan siswa (generasi penerus) khususnya bisa mengenal dunia konservasi baik lingkungan ataupun satwa.

Konsep-konsep kegiatan Lepsa sangat inovatif seperti mengadakan kegiatan sosialisasi tentang lingkungan dan satwa ditingkat PAUD/TK, SD, SMP - SMA/SMK, dengan pengenalan langsung dunia satwa (siswa diajak berinteraksi langsung dengan satwa) dan penanaman serta pembagian bibit pohon.

Pada Mei ini, tepatnya tanggal 08 Mei 2016 bertempat di Waterboom Zatobay pemalang, Lepsa akan mengadakan sebuah kegiatan sosial yang bertakjub "Festival Pemalang Hijau 2016" Kegiatan ini adalah salah satu bentuk action nyata yang digelar ditengah - tengah masyarakat dengan tujuan bagaimana mengenalkan kepada masyarakat tentang Dunia Satwa serta Konservasi lingkungan.

Dalam kegiatan Festival Pemalang Hijau 2016 ini, akan ada kegiatan Pembagian bibit pohon, Stan Edukasi tentang dunia Satwa yang nanti masyarakat tidak hanya mengenal secara teori jenis satwa, akan tetapi nanti masyarakat juga bisa berinteraksi secara langsung dengan satwa yang akan disosialisasikan di Stan tersebut, dan juga ada Stan Produk oleh-oleh khas pemalang. selain pembagian bibit pohon dan stan edukasi dunia satwa, kegiatan Festival Pemalang Hijau 2016, juga akan dimeriahkan beberapa Festival diantaranya :
- Festival Band Pelajar,
- Festival Modeling Pelajar
- Festival Pop Singer Pelajar,
Festival-festival ini melibatkan pelajar se Kab.Pemalang dengan tujuan selain menyalurkan bakat pelajar pada event festival, pelajar juga dilibatkan secara aktif tentang bagaimana peran pelajar sebagai generasi penerus untuk bisa lebih peduli aktif menjaga dan melestarikan lingkungan dan satwa.




Kegiatan Festival Pemalang Hijau 2016 disuport beberapa instansi terkait, seperti ; Bappeda Kab.Pemalang, Dindikpora Kab.Pemalang, Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) dan beberapa sponsor pendukung lainnya seperti: Waterboom Zatobay, BRI Pemalang, SBR Motor Pemalang, Hotel Sentana Mulya Pemalang, Indosat, dll.



Yuks Saksikan dan buat kalian yang masih pelajar buruan daftarkan diri kalian...
Dan Jadilah Generasi pecinta lingkungan dan satwa yang peduli aktif :)


Informasi Pendaftaran :
Telkomsel : 082329367430  (Susilo)
Indosat      : 085742193123 (Andre)

Tempat Pendaftaran Festival :
- Studio Quen Music Banjardawa Pemalang
- Waterboom Zatobay Pemalang





Minggu, 24 Januari 2016

MENTAMORFORSIS LPAS MENJADI LEMBAGA PERLINDUNGAN SATWA DAN ALAM (LEPSA) INDONESIA; TERIMA KUNJUNGAN MAHASISWA UNNES UNTUK BELAJAR TENTANG KONSERVASI TYTO ALBA



Pemalang – Lembaga Pemerhati Alam dan Satwa (PAS) ; terus melakukan upaya sosialisasi khususnya generasi penerus siswa-siswi tingkat TK, SD, SMP, SMA, Mahasiswa dan masyarakat umumnya tentang pengetahuan untuk cinta terhadap satwa, alam dan lingkungan.

Salah satu wujud nyata kegiatan Lembaga Pemerhati Alam dan Satwa (PAS), yang sekarang ini bermetamorforsis menjadi Lembaga Perlindungan Satwa dan Alam (LEPSA) Indonesia, adalah pendirian Pusat Study Konservasi Habitat Tyto Alba di Desa Penggarit, Taman Kabupaten Pemalang. Pendirian Pusat study konservasi ini sebagai salah satu implementasi kegiatan nyata dari Sosialisai, Edukasi, Konservasi yang selama ini menjadi Visi Misi Lembaga ini berdiri.

Pusat Study Konservasi Habitat Tyto Alba mulai dikembangkan mengingat satwa satu ini, memiliki manfaat yang cukup banyak bagi Petani dalam hal pengendalian hama tikus sawah. Selain dimanfaatkan kegunaanya untuk petani, Tyto Alba di penangkaran ini juga dilatih untuk bisa berinteraksi secara langsung dengan pengunjung yang ingin melihat taupun berfoto bersama Tyto Alba.

Seperti dijumpai kemarin (21/12), Rombongan dari Universitas Negeri Semarang (UNNES) datang berkunjung ke pusat study konservasi Tyto Alba, ditambahkan; Zuko (koordinator rombongan) tujuan kunjungan ini sekaligus ingin belajar pengembangbiakan habitat tyto alba, konsep pengembangbiakan dengan bentuk konservasi sangat inspiratif ,konsep ini membuka pengetahuan para mahasiswa konservasi tidak hanya untuk satwa yang hampir punah, namun konservasi juga bisa diterapkan untuk satwa yang habitatnya belum terancam punah. Sekaligus ini menjadi pencegahan awal agar satwa Tyto Alba ini tetap terjaga habitatnya dilingkungan habitatnya.

Elman Prasetyo, S.Pd, selaku ketua lembaga menambahkan; bahwa konservasi Tyto Alba dipilih untuk dikembangkan karena dianggap perlu sebagai salah satu satwa yang memilki banyak manfaat bagi petani, selain untuk pengendalian dan penanggulangan hama tikus tyto Alba ini dikembangkan pula untuk icon Desa yang bisa dikembangkan dalam kegiatan pariwasata.


Kegiatan konservasi ini akan terus dikembangkan keberbagai wilayah khususnya daerah persawahan. Sekaligus mengedukasi masyarakat tentang kegiatan konservasi, perlindungan agar tercapai masyarakat yang sadar untuk menjaga, melestarikan  lingkungan dan satwa.




Kamis, 23 April 2015

Lembaga PAS ; Inisiasi Penangkaran TYTO ALBA


Siapa yang tidak kenal tikus?

Hewan ini mudah ditemui disekitar kita. Tapi bila tikus muncul dan berkembang biak di area pertanian dan perkebunan, hewan ini bisa menjadi hama yang menakutkan bagi petani, Kehadirannya harus diberantas.


Lalu bagaimana dengan upaya pemberantasan hama tikus?

Berbagai cara pendekatan telah banyak diupayakan dalam memberantas hama tikus ini. Mulai dari pengunaan racun tikus (rodentisida) hingga metode yang alami, yaitu dengan memanfaatkan kehadiran burung hantu (TYTO ALBA).

Hal ini yang kemudian coba dikembangkan penangkaran berkelanjutan didesa yang ada dipemalang (Desa Penggarit); mengingat pemalang merupakan daerah yang mempunyai luas areal persawahan sangat luas. Penanganan pengendalian hama tikus dengan menggunakan preadiator alami seperti tyto alba merupkan langkah yang sangat tepat dan juga langkah ini sudah banyak berhasil dikembangkan didaerah-daerah lain.


Yuks Kenalan dengan Tyto Alba J

Karakter dan habitat Tyto alba
Tyto alba merupakan salah satu spesies burung hantu yang banyak tersebar di seluruh belahan dunia, termasuk Indonesia. Dalam bahasa Latin, Tyto alba berarti burung hantu putih. Adapun dalam literatur perburungan internasional, burung ini dikenal dengan nama barn owl: mengacu pada habitat aslinya berupa gudang-gudang di ladang pertanian. Masih banyak julukan lain bagi burung hantu ini, misalnya monkey-faced owl (burung hantu berwajah monyet), white owl, dan night owl (hanya mencari mangsa di malam hari).
Tyto alba biasanya ditemukan di wilayah pemukiman dan ladang perkebunan. Mereka senang tinggal di ladang-ladang, karena tikus yang menjadi santapan utamanya sering berada di sana. Selain tikus, burung hantu juga sering memangsa anak kelinci, kelelawar, katak, kadal, burung-burung kecil, serangga, bahkan ular kecil.
Burung ini bersifat nokturnal, artinya hanya aktif pada malam hari, dengan indera pendengaran dan indera penglihatan yang tajam. Tyto alba mampu mendengar dan melihat mangsanya yang berukuran kecil, seperti tikus, dalam jarak cukup jauh.
Untuk menutupi kelemahan pada kedua bola matanya yang tidak bisa berkedip, burung ini bisa memutar lehernya hingga 270 derajat. Itulah cara yang biasa dilakukannya ketika mengamati pergerakan mangsanya.

Ketika terbang memburu mangsa, Tyto alba mampu melakukan gerakan menukik dengan cepat tanpa mengeluarkan suara. Tidak heran jika mangsa dengan mudah disergapnya dalam waktu sekejap. Karena itulah, Tyto alba dianggap sangat efektif dalam membasmi hama tikus, dan hal ini sudah dibuktikan sendiri oleh masyarakat petani pemalang.

Penangkaran Tyto alba
Untuk memulai penangkaran, sebaiknya Anda memilih burung hantu hasil penangkaran. Cara ini lebih praktis, karena burung hantu menjadi lebih mudah dilatih dan lebih cepat beradaptasi dengan kandang barunya yang sering disebut rumah burung hantu (pagupon).
Pilihlah minimal sepasang burung hantu yang sudah mencapai umur dewasa kelamin, dengan umur sekitar 1 tahun atau  lebih. Untuk membedakan burung jantan dan betina bisa dilihat dari warna dan motif bulunya. Silakan perhatikan gambar di bawah ini :

Setelah mendapatkan sepasang burung hantu, maka yang dibutuhkan           sekarang adalah kandang penangkaran yang luas dan cukup untuk burung terbang atau menjalankan segala aktivitasnya.

Di dalam kandang diletakan sebuah kotak besar untuk tempat bersarang. Kotak sarangnya pun bervariasi. Ada yang berbentuk kotak biasa seperti glodok, ada juga yang berukuran besar, atau berbentuk segitiga sebagaimana yang digunakan penangkar burung hantu di luar negeri.


























Tyto alba jantan umumnya hanya berpasangan dengan seekor betina saja (monogami), meski ada juga individu yang memiliki pasangan lebih dari satu. Pada masa perjodohan, burung hantu akan berburu bukan hanya malam hari saja, tetapi juga siang hari untuk memberikan makanan kepada pasangannya.

Saat itulah, ia akan berpatroli dengan mengeluarkan jeritan khasnya yang menandakan wilayah teritorialnya. Hal ini bukan hanya untuk mengusir saingannya, tetapi juga untuk menarik perhatian burung betina.

Burung betina menghasilkan telur sebanyak 4 – 6 butir, yang akan dierami selama 21 – 28 hari. Piyik-piyik yang menetas akan diasuh induknya selama 60 hari, sampai mereka mulai keluar dari sarangnya. Tetapi masa sapih (anakan bisa makan sendiri) umumnya terjadi pada umur 85 – 90 hari.













Memanfaatkan jasa Tyto alba
Sepasang Tyto alba yang sudah mampu mencari makan sendiri itulah yang dimanfaatkan untuk menjaga wilayah persawahan, dan mulai ditempatkan dalam rumah burung hantu (rubuha) atau pagupon.
Sselama berada di dalam rubuha, Tyto alba muda dilatih untuk beradaptasi dengan lingkungan dan rumahnya yang baru. Selama latihan, burung masih diberi makanan berupa tikus kecil yang langsung disodorkan dari tangan kita. Lakukan hal ini selama 1 minggu penuh.
Setelah beradaptasi dengan lingkungan dan rumahnya, burung muda akan mampu mencari makan sendiri, dengan memantau kondisi persawahan di sekitarnya. Mereka akan keluar dari rubuha malam hari, untuk menjalankan tugas mulianya membantu para petani.
Untuk menjaga sawah, setiap 5 – 10 hektare (ha) lahan bisa dibangun satu rubuha. Hal ini sesuai dengan radius kemampuan burung hantu dalam menjaga wilayah teritorialnya.
Desain dan konstruksi rubuha tergantung kreasi Anda dan/atau kelompok Anda. Yang penting burung hantu merasa aman dan nyaman selama berada di dalamnya. Sebagaimana merpati, burung hantu akan kembali pulang ke rumahnya, tanpa pernah kesasar.
Berikut beberapa gambar rubuha yang bisa dijadikan referensi :




















Nah, sudah siapkah desa Anda memanfaatkan jasa Tyto alba ? Atau, barangkali, Anda justru ingin menjadi penangkar burung hantu, untuk memasok bibit Tyto alba ke masyarakat petani?
Semoga bermanfaat.
Untuk Informasi ; Seputar Upaya Penangkaran Pengembangbiakan Tyto Alba , 
Cp : 083862066222 / Lembaga PAS Pemalang.
email : pasnasional@gmail.com / eloibnusina@ymail.com
Salam Lestari :)